• Home
  • About
  • Advertise
  • Contact
  • Subscribe to my RSS
  • Chat Box
Make You Smile
  • Home
  • Article
    • Art and Culture
    • Design Build
    • Earn Money
    • General Info
    • Healthy
    • International Military
    • Islamic
    • Personality
    • Unique News
  • Download
    • Anime
    • Ebook
    • Games
    • Movie
    • Music
    • Software
    • Wallpaper
    • Windows
  • Folklore
    • Aceh
    • Bali
    • Bangka Belitung
    • Banten
    • Bengkulu
    • Gorontalo
    • Jakarta
    • Jawa barat
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Learning
    • Biologi
    • Chemical
    • Citizenship
    • Economy
    • English
    • History
    • Indonesian
    • Physics
    • TIK
  • News Style
    • Fotografi
    • Info Sepeda
    • Internet and Technology
    • Mobile Phone
    • Otomotif
    • N-Gage
  • Tips and Trick
    • Alexa
    • Blog
    • Computer
    • Magic
    • SEO
  • Wonosobo
    • Kalibawang
    • Kaliwiro
You are here : Home »
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

kamera-digital-terkecil
 
Tadi siang waktu saya lagi menjalankan ritual seorang blogger (blogwalking), saya menemukan sebuah informasi gadget unik, yaitu: kamera digital terkecil di dunia.

Berikut adalah puluhan kumpulan hasil editam photoshop yang unik asik menarik dan lucu, foto-foto ini dapat menginspirasi anda untuk menghasilkan karya yang sangat baik.

Kisaran Harga$499.99
Camera Type Digital SLR Camera

Kisaran Harga $6,799.95
Camera Type SLR Digital Camera
Imaging
Resolution Effective: 21.9MP, Recorded: 21.1MP
Sensor 36 x 24mm CMOS
Bit Depth 14-bit
File Formats RAW, sRAW, JPEG, WAV
File Size Not Specified By Manufacturer
Color Spaces sRGB, Adobe RGB
Image Stabilization Body: No
Crop Factor None
Optics
Lens No
Zoom N/A
Lens Mount Canon EF mount
Focus Type Auto and Manual Focus
Focus Range N/A
Accessory Lens/Filter Mount N/A
Shooting Controls
Sensitivity ISO: 100-1600 (expandable to 50 and 3200)
Shutter Speeds 1/8000 – 30 sec, bulb
Metering Evaluative, Partial, Spot, Center-weighted Average
Exposure Modes Manual, Shutter-priority, Aperture-priority, Program
White Balance Auto, Day Light, Shade, Cloudy, Tungsten, Fluorescent, Flash, Custom, Kelvin
Mirror Lock-Up Yes
Burst Capability High-speed continuous: 5fps, Low-speed continuous: 3fps
Self Timer 10 seconds or 2 seconds
Interval Recording 1 Possible with optional TC-80N3 Timer Remote close No
Remote Control Yes, optional N3-type remote
Flash
Built-in Flash No
Effective Flash Range N/A
External Flash Connection Hotshoe, PC terminal
Dedicated Flash System Canon Speedlite EX-series
Max Sync Speed 1/250 sec.
Memory
Built-in Memory No
Memory Card Type CompactFlash I/II and SD/SDHC
Still Images per GB RAW: 40
sRAW: 70
JPEG: High Res:160 – Low Res:465
A/V Recording
Video Recording No
Video Resolution No
Video Clip Length No
Audio Recording WAV format
Up to 30 seconds with image
Viewfinder/Show
Viewfinder Type Eye-level Pentaprism
Viewfinder Coverage 100%
Show 3″ LCD
Connectivity/System Requirements
Connectivity USB 2.0, A/V Out, Dedicated port for optional wireless WFT-E2/E2A
System & Software Requirements Windows 2000, XP, Vista
Macintosh OS X (10.3-10.4.x)
Environmental
Operating/Storage Temperature Operating Temperature: 32-113°F/0-45°C
Humidity: 85%
Weatherproofing Not Specified By Manufacturer
Durability Not Specified By Manufacturer
Power
Battery Type LP-E4 Lithium-ion Battery
Power Adapter ACK-E4 AC Adapter Kit (included)
Physical
Dimensions 6.1 x 6.3 x 3.1″ (156 x 159.6 x 79.9mm)
Weight 42.7oz. (1210g) body only

Dengan kisaran harga $6,799.95 membuat Canon EOS 1Ds Mark III SLR Digital Camera Body Only menjadi teman pilihan yang mantap untuk mengabadikan momen kehidupan Anda. Segera dapatkan Canon EOS 1Ds Mark III SLR Digital Camera Body Only di toko kamera digital slr di kota jakarta, bandung, surabaya, semarang dan medan dengan kisaran harga $6,799.95.

Kisaran Harga $7,499.95
Camera Type Digital SLR Camera
Imaging

With so many fantastic apps on the market, with their one touch photo effects and filters, iPhones and their built in digital cameras have taken the photography world by storm.



Kali ini kami akan mempersembahkan karya foto dari Sugede S Sudarto.


Panggilan Tugas
Foto: Sugede S Sudarto


Kilo Meter XL
Foto: Sugede S Sudarto


Di Balik Baju Kraton
Foto: Sugede S Sudarto


Di Puncak Borobudur
Foto: Sugede S Sudarto

Terima kasih atas kunjungan anda.


Kesadaran akan keselamatan berkendaraan masyarakat kita perlu senantiasa ditingkatkan,
baik dalam hal disiplin mengemudi, fasilitas kendaraan, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan pengutamaan keselamatan penumpang.


Cat Patung Polisi
Foto: Ali Budiman


Menanti Jemputan.
Foto: Ali Budiman


Crowded. Suasana Kelas Ekonomi Kapal Penumpang Dharma Kencana jurusan Semarang-Pontianak.
Foto: Ali Budiman

Terima kasih atas kunjungan anda.

 Berikut adalah foto karya fotografer yang bernama Purwanto




 Terima kasih atas kunjungan anda.

Catatan ini merupakan lanjutan dari catatan saya sebelumnya tentang Memilih Lensa,
ditujukan untuk para pengguna DSLR pemula (karena pengguna poket atau superzoom tidak akan dipusingkan oleh penggantian lensa, begitu pula dengan para pengguna DSLR yang sudah berpengalaman).

Menyesuaikan 'Mata" dengan Keperluan

Pemilihan lensa harus disesuaikan dengan kategori foto yang kita kehendaki. Kategori ini bisa didasarkan pada:
  • Foto yang paling sering kita ambil, atau
  • Tuntutan pekerjaan

Dari pemahaman mengenai kategori foto ini, kita dapat menentukan kriteria dari lensa yang kita perlukan. Supaya lebih mudah dimengerti, contohnya sebagai berikut:
  • Paparazzi dan wartawan olahraga sering mengambil foto dari jarak jauh dan perlu kecepatan respon agar tidak ketinggalan momen, jadi perlu lensa tele dengan fokus jauh (di atas 200 mm) yang dilengkapi image stabilizer & motor ultrasonik
  • Foto produk dalam studio dengan penerangan terbatas, perlu lensa dengan jarak fokus pendek (antara 18 sampai 50 mm), bisa memotret dari jarak dekat (makro) dan aperture lebar
  • Foto panggung/ show memerlukan lensa yang mampu memotret dalam kondisi low-light (aperture lebar/ fast lens), respon cepat (motor ultrasonik atau sejenisnya), dan fokus jauh (200 mm atau lebih)
  • Untuk foto jurnalistik, travelling, human interest, yang diperlukan adalah fleksibilitas & kejelian menangkap momen. Lensa vario dengan range lebar (sapujagad) dan bobotyang ringan paling cocok untuk memenuhi keperluan ini, misalnya 18-135 mm atau 18-200 mm

Setelah mengetahui kriteria lensa yang kita perlukan, barulah kita dapat mencari lensa yang sesuai dengan keperluan & anggaran.

Terima kasih atas kunjungan anda.

TEMPO Interaktif, Seorang fotografer Indonesia, Robertus Agung Sudiatmoko, menghasilkan karya foto yang menakjubkan.

Dia berhasil menjepret semut yang tengah menari di atas satu kaki.

Dalam foto yang dilansir di Daily Mail, Rabu 11 Mei 2011 itu, serangga tersebut menari seperti tengah mengikuti sebuah audisi ajang pencarian bakat untuk serangga, Insect’s Got Talent.

Robertus yang tinggal di Jakarta, mengambil gambar itu ketika semut api melintas di dekatnya, saat dia berada di sebuah desa kecil di Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Pria 29 tahun itu mengambil banyak jepretan yang luar biasa, tapi yang paling spektakuler adalah foto semut menari. Saat Robertus membidiknya, semut itu tiba-tiba mengangkat badannya dan berdiri di atas kaki sebelah kanan selama 30 detik.

Dalam jepretan lainnya, Robertus berhasil mengabadikan seekor semut yang berdiri di atas bebatuan tengah menyilangkan tangannya seperti tengah berdoa. Semut kecil itu berdoa diterangi cahaya dari langit.

Foto lainnya menunjukkan kekuatan yang luar biasa dari binatang. Dalam foto itu, semut dapat membawa daun raksasa di atas kepalanya. Padahal, daun itu berukuran lebih dari 10 kali tinggi badannya. 




Gambar itu diambil pada bulan September saat Robertus dan teman-temannya berburu foto macro. “Saya hanya mencoba melakukan bidikan macro, tapi sebisa mungkin saya ingin menangkap bidikan terbaik dari semut.”

“Lalu tiba-tiba, di luar dugaan, semut itu mengangkat badannya di atas kakinya dalam posisi menari,” ujar Robertus.

Robertus sangat senang dengan hasil fotonya itu. “Untuk pertama kalinya bagi saya, itu bidikan yang bagus. Akan sulit membuat foto lebih baik dari itu.”

Semula, dia sempat putus asa bisa mendapatkan bidikan yang bagus lantaran turun hujan. Saat matahari muncul lagi, dia menanti semut itu kembali. 






Robertus mengambil gambar mengagumkan itu dengan menggunakan kamera Canon 40D dengan lensa macro 100mm. “Saya suka semut karena mereka sangat mandiri dan bekerja sama,” ujarnya. “Semut seperti manusia. Mereka sangat terorganisasi dan semuanya bekerja,” ujarnya lagi.


Terima kasih atas kunjungan anda.



Anak-anak, di manapun mereka berada, memiliki daya imajinasi dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Adalah tugas orang dewasa, termasuk orangtua, untuk memfasilitasi anak mengasah potensi dirinya. Potensi anak memiliki arti jika mereka juga diberi kesempatan menunjukkan kemampuan diri.

Jika anak menyukai dan memiliki kebiasaan menulis, tugas orang dewasa adalah mendorong kegemaran tersebut dengan memfasilitasinya. Begitupun jika anak berpotensi menulis puisi, cerita sehari-hari dalam buku harian, pengalaman unik, menulis lirik lagu, hingga memotret obyek yang menarik, semakin berkembang dan terasah jika terfasilitasi dengan baik.

Bagi masyarakat perkotaan, tak sulit mendapatkan fasilitas yang mendukung kegiatan anak dalam menulis atau memotret. Ponsel pintar, laptop, tablet, kamera digital saku hingga semi-profesional mudah saja diberikan kepada anak sebagai hadiah kenaikan kelas. Bahkan kini, semakin banyak siswa SMP-SMA meminati ekskul fotografi.

"Fotografi sudah digemari anak dan remaja sejak awal 2000-an. Workshop fotografi untuk anak dan komunitas fotografi untuk anak-anak usia SMA juga sudah lama hadir. Saat ini semakin banyak anak yang menggemari fotografi, apalagi di era Facebook. Anak-anak merasa memiliki wadah untuk memamerkan hasil karya mereka melalui Facebook. Rasa ingin tahu anak dan ketertarikan mereka terhadap fotografi juga tinggi," kata Roy Rubianto, fotografer lepas di sejumlah media asing, kepada Kompas Female, seusai pelatihan menulis dan fotografi yang diadakan oleh Plan Indonesia di Lembata, Nusa Tenggara Timur, 16-17 April 2011 lalu.

‎Anak daerah, dengan tingkat penghasilan orangtua yang rendah, sebenarnya juga punya minat dan kemampuan yang sama. Namun, mereka tak selalu bisa menikmati berbagai fasilitas ini karena tak memiliki fasilitas lengkap seperti anak kota.

"Anak-anak peserta pelatihan menulis dan fotografi di Lembata memiliki semangat luar biasa. Mereka kritis, banyak bertanya, mau belajar, dan memiliki potensi dan kemampuan yang baik dalam mencari sudut pandang menarik," jelas Roy.

Sebanyak 20 anak yang tergabung dalam Forum Anak Lembata (Forkal) binaan Plan Indonesia, antusias mengikuti pelatihan menulis dan fotografi. Anak nelayan dan petani di Lembata ini berasal dari enam kecamatan di kabupaten Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur. Sejumlah anak tinggal tak jauh dari lokasi pelatihan di Lewoleba, ibu kota kabupaten Lembata. Namun tak sedikit anak yang harus menempuh perjalanan lebih dari dua jam dari desanya ke lokasi pelatihan.

Wilson Lanang dari Lamalera, harus menempuh tiga jam perjalanan untuk mengikuti kegiatan pembinaan ini. Mei dari Lebatukan juga harus menempuh perjalanan panjang menuju lokasi pelatihan.

Belasan anak lainnya dari kecamatan Omesuri, Buyasari, Nagawutung, Ile Ape, Wulandoni, dan Nubatuban, tak terbatasi dengan jarak dan waktu untuk mengasah kemampuan menulis dan mengambil gambar. Meski perjalanan menyisir pantai dan melewati sejumlah kampung terasa panjang, namun tetap menyenangkan bagi mereka.  Pasalnya sepanjang jalan terhampar potensi alam dan laut Lembata yang memanjakan mata. Potensi alam serta tradisi budaya di Lembata inilah yang diharapkan bisa menjadi bahan cerita menarik untuk dituliskan atau difoto oleh anak-anak Lembata.

"Anak-anak bisa menceritakan tentang banyak hal melalui tulisan, karena dengan menulis, akan semakin banyak orang yang mengetahui mengenai berbagai hal menarik dan unik dari berbagai daerah di Lembata. Tulisan akan lebih bertahan lama dibandingkan sekadar bercerita. Berceritalah, namun wujudkan cerita dalam bentuk tulisan atau foto," kata Muhammad Thamrin, Program Unit Manager Plan Indonesia Lembata, saat membuka kegiatan di Hotel Palm Indah, Lewoleba, Lembata, NTT, Sabtu (16/4/2011) lalu.

Karakter khas anak pesisir yang cerdas dan pantang menyerah menonjol dalam diri 20 anak yang mengikuti pelatihan ini. Selama dua hari pelatihan, semangat mereka tak ada habisnya. Setiap kali diminta tampil di depan forum, mereka pun tak sungkan. Bahkan hingga acara berakhir, kebersamaan anak daerah ini kental terasa. Mereka tak ada habisnya menyanyikan lagu khas Timor, menandakan sudah waktunya berpisah dan berkarya di daerah masing-masing.

Anak-anak ini tak memiliki fasilitas lengkap layaknya rekan sebaya mereka di kawasan perkotaan, namun bicara potensi dan semangat, mereka punya kekuatan berbeda. Satu harapan dihaturkan Emanuel dari Lewoleba.
"Saya suka dan sering menulis. Saya senang bisa mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan
menulis dan jurnalistik. Namun kami juga membutuhkan kesempatan agar tulisan kami dimuat agar bisa dibaca oleh banyak orang," ungkap laki-laki muda yang terpilih sebagai peserta terinspiratif, mendampingi Asriani B Gani dari Nubatukan. Fasilitator pelatihan menulis dan jurnalistik memberi penghargaan kepada dua anak mudah ini karena kegigihan, ketelitian, kejelian, serta keingintahuan yang tinggi sepanjang pelatihan.

Emanuel dan Asriani punya potensi. Namun potensi saja tak cukup tanpa adanya kesempatan menunjukkan kebolehan diri. Seperti Emanuel yang bermimpi tumpukan tulisan yang dikumpulkannya sejak 2005 bisa dilirik dan dipublikasikan di media nasional. Suatu waktu nanti, harapnya.

Kompas.com

Terima kasih atas kunjungan anda.


Sesungguhnya esensi fotografi adalah bermain dengan cahaya. 

Bila kita mampu memainkan dan menyiasati arah datangnya cahaya ke obyek foto dengan baik dan benar, tentu akan menarik dan menghasilkan karya fotografi yang bagus. Tapi bila kita salah, tentu hasilnya akan mengecewakan.

Arah datangnya cahaya terhadap subyek foto memiliki beberapa kemungkinan yaitu: dari depan/ frontlight, belakang/ backlight, samping kiri atau kanan/ sidelight, atas/ toplight, dan bawah/ bottomlight. Tiap-tiap arah datangnya cahaya tersebut mempunyai keuntungan, kerugian, dan kesulitannya masing-masing dalam pemotretan.


Untuk edisi kali ini, saya akan membahas mengenai backlight, dimana arah datangnya cahaya dari belakang obyek foto. Backlight menjadi “perburuan” karena tingkat kesulitan dalam pemotretan untuk sumber cahaya seperti ini. Hasil foto yang dihasilkan dari cahaya backlight juga bisa beragam dan luar biasa jika berhasil dipergunakan dengan baik.

Memotret dengan teknik backlight tentunya dapat memisahkan antara obyek dan background sehingga foto menjadi berdimensi. Selain itu, beragam efek lainnya dari teknik ini menghasilkan foto seperti: siluet, translucency, rimlight termasuk flare. Soal hasil, kembali lagi kepada teknik digunakan fotografer.

Biasanya, dengan teknik ini kita dapat menghasilkan gambar siluet yang cenderung under exposure (UE). Namun foto dengan teknik backlight juga bisa menghasilkan gambar yang tidak under exposure bila kita menambahkan cahaya yang sifatnya fill in.


Cahaya fill in ini tentunya tidak sebesar cahaya main light, dengan tujuan agar terjadi gradasi cahaya yang membuat foto berkesan dramatis dan memiliki nilai seni. Dengan teknik backlight, memberikan cahaya pinggir yang mempesona dan membuat bentuk-bentuk obyek tampak lebih jelas terlihat. Bila bermain tekhnik backlight di studio, letakkan sumber cahaya di belakang obyek. Kemudian kita bisa mempergunakan sumber cahaya lain sebagai fill in. Bisa di depan obyek, bisa juga dari samping atau pun bawah sesuai keingin kita.

Untuk menjaga ketajaman obyek foto dan terhindar terjadinya shaking, settinglah kamera dengan speed cepat dan diafragma sedang. Dengan memahami arah datangnya cahaya, diharapkan kita semakin bisa menghasilkan foto yang baik. Selamat mencoba!

Oleh: Darwis Triadi

Terima kasih atas kunjungan anda.


Pada beberapa sisi budaya tradisional ternyata masih mempunyai daya pikat tersendiri bagi masyarakat modern saat ini. Pesona mereka mampu menembus batasan waktu tak terbatas.

 
Sebuah budaya tradisional yang tetap dipertahankan keberadaannya tak sekadar berfungsi sebagai simbol. Ya, layaknya romansa untuk mengingat keindahan masa lalu. Tetapi lebih dari itu dia merupakan representasi dari sebuah identitas. Seperti halnya kerapan sapi suatu kultur yang dianggap sebagai penjelmaan dari karakter masyarakat Madura yang tegas, sangat menjunjung harga diri dan jantan.

 
Kerapan sapi sendiri mulai hadir di tengah kehidupan masyarakat Madura, sejak awal abad ke XV tepatnya di masa pemerintahan Raja Jokotole, yaitu sekitar tahun 1415 – 1480.

 
Pada masa itu, masyarakat Madura dikenal gemar melakukan kegiatan olahraga tradisional seperti: Okol (gulat) dan Ojung (perang tanding). Termasuk kerapan sapi. Dalam perjalanannya kerapan sapi kemudian berkembang menjadi olahraga yang paling digemari masyarakat Madura.

 
Dalam realita sosial, kerapan sapi dianggap mampu mengguratkan nilai-nilai tersendiri. Karena bagi masyarakat Madura kerapan sapi dianggap bisa mengangkat martabat sekaligus tingkatan kasta mereka.

 
Sejatinya selain menjadi tradisi, kerapan sapi sesungguhnya adalah sebuah perayaan untuk mengungkapkan kesuksesan panen tembakau.

 
Saat ini olahraga yang dianggap sebagai simbol dari seorang laki-laki telah dikenal luas di luar masyarakat Madura bahkan hingga ke negeri manca.
 
 
Bahkan kerapan sapi kini telah menjadi sebuah agenda wisata tahunan yang digelar tiap bulan Oktober minggu ke dua setiap tahunnya dengan memperebutkan piala presiden. Lokasi yang dipilih adalah Stadion R. Soenarto Hadiwidjojo, di Kabupaten Pamekasan. 

 
Dalam pergelaran kerapan sapi, sebelum acara dimulai, biasanya akan didahului dengan semacam upacara pembukaan. Pasangan-pasangan sapi akan diarak mengelilingi arena pacuan sembari diiringi gamelan asli Madura (saronen) dan tari pecut. Setelah ritual tersebut selesai baru acara puncak digelar.

 
Dalam perlombaannya sendiri, sepasang sapi yang telah dipilih dan dijadikan “pembalap” akan menarik sebuah kereta dari kayu sebagai tempat joki berdiri dan mengendalikan sapi-sapi tersebut. Sapi dan joki tersebut akan berlomba memacu adrenalin mereka di areal pacuan yang memiliki luas sekitar 100 meter.

 
Lomba biasanya bisa berlangsung selama sepuluh sampai lima belas detik.Untuk meraih kemenangan dibutuhkan sepasang sapi yang kuat dan seorang joki yang andal. Kedua elemen ini merupakan faktor penting yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri. 

 
Selain kerapan sapi lomba lain yang melibatkan kemampuan hewan adalah lomba burung dara. Menurut sejarahnya permainan ini juga berasal dari Madura, meski hal tersebut belum bisa dipastikan seratus persen kebenarannya. Dalam tradisinya, lomba burung dara terbagi atas dua macam, yaitu: "sistem lemahan" dan "sistem tanganan". Masing-masing sistem ini mempunyai ciri khas sekaligus tata cara tersendiri. 

 
Untuk sistem tanganan misalnya, dara betina yang dijadikan sebagai “umpan” dipegang oleh seorang penggeber atau joki. Sedangkan dara jantan diterbangkan dari jarak yang cukup jauh sekitar 100 m untuk menghampiri burung dara jantan yang dipegang oleh penggeber. 

 
Dalam sebuah perlombaan burung yang dinyatakan sebagai pemenang adalah burung yang lebih cepat sampai di tangan penggeber. Sedangkan untuk sistem lemahan, prosesnya hampir sama dengan sistem tanganan. Hanya saja, dara betina diletakkan di tanah dan dibatasai lingkaran. Dan dara jantan menghampiri burung dara betina tersebut sekaligus masuk ke dalam lingkaran. 

 
Dalam menjaga kekompakan antara burung dara jantan dan betina dibutuhkan latihan tersendiri. Penggeber harus memberikan “pelajaran” secara intensif, bahkan sejak burung dara yang dipilih tengah mengerami telurnya. Pada saat burung ngeram sesungguhnya itu adalah waktu yang tepat bagi burung untuk digiring (dilatih untuk saling membutuhkan atau mendekat). 

 
Selama proses pelatihan tersebut telur yang dierami harus dibuang. Lantas kedua pasang burung dara itu dibersihkan dengan air lalu dijemur dalam satu kurungan yang bertingkat dengan posisi atas bawah selama 5 hari. Selepas proses tersebut keduanya akan menjadi sepasang “romeo dan juliet”. Karena, setiap terpisah dari sang dara, sang jantan akan mencari atau menghampiri dara betina.


 
Namun ada hal yang perlu diperhatikan lagi, dalam proses latihan, penggeber harus selalu memakai baju dengan warna yang sama. Hal ini dimaksudkan agar burung terbiasa mengenal satu warna. Dengan demikian burung akan lebih mudah mengenali penggebernya. 

 
Meski burung sudah akrab dengan penggebernya, dia biasanya akan sulit mengenali “majikannya” tersebut saat penggeber memakai baju dengan warna lain. Saat ini tradisi kerapan sapi dan lomba burung dara masih eksis terjaga kelestariannya. Mereka terus berdiri mempertahankan identitas lokal di tengah derasnya intervensi budaya asing yang datang silih berganti.

Foto by: Darwis Triadi

Terima kasih atas kunjungan anda.

Berbasis di California foto ilustrator dan fotografer Josh Sommers akan meniup pikiran Anda dengan montages luar biasa foto nyata.
Seperti yang Anda lihat dalam foto ini, ia telah menyuntikkan dirinya ke dalam karyanya. Ciptaannya sangat aneh, dan Anda mungkin membuat anda mual-mual dan terganggu,
 
Sommers menuangkan banyak energi kreatif ke dalam proyeknya. Dia menganggap dirinya bahagia ketika ia menggunakan kreativitas dan berencana untuk tetap menciptakan montages foto seperti yang di bawah ini . Kita tentu berharap itu benar karena foto montages secara menakjubkan adalah asli.
 
 














Terima kasih atas kunjungan anda.
Postingan Lama Beranda
  • Recent Posts
  • Comments
Advertisement

Page

  • Advertise
  • Chat Box
  • Contact
  • About
  • Friend Make Smile

Search

Sites

Site Meter Entertainment blogs Page Rank Check Entertainment Blogs

Online users :

Pemberitahuan

25 Mei 2013

Anime One Piece 594 sub indo
Naruto 314 sub indo

Software dan game serta artikel mulai update :)

-Alan Hendrawan-

Friends follow

  • Home
  • About
  • Advertise
  • Contact
  • Facebook
  • Twitter
Copyright © 2012 Make you smile. All rights reserved.
Designed by Alan Hendrawan